Semakin Sempit, Kini Apartemen Mulai Menjamur

apartemen

Tren pembangunan apartemen di Bekasi dimulai sejak 2012 lalu. Saat ini tercatat sudah ada 29 apartemen di Kota Patriot tersebut dengan total sekitar 50.000 unit.Menurut Kepala Dinas Tata Kota Bekasi, A. Koswara, pemerintah kota (Pemkot) Bekasi membuat regulasi bangunan high rise lantaran kawasan hunian makin menyusut. Dari 9.500 hektar lahan yang diperuntukkan sebagai kawasan hunian, kini tinggal 1.700 hektar saja.

Untuk itu, Pemkot Bekasi telah melakukan zonasi tata ruang, yakni kawasan wajib vertikal, prioritas vertikal, dan kawasan yang dapat dibangun hunian tapak.

Daerah Utara Bekasi, imbuh Koswara, diarahkan menjadi kawasan gedung vertikal. Bahkan KLB (koefisien lantai bangunan) di kawasan ini bisa mencapai 40 – 45.

“Jalan Cut Meutia direncanakan menjadi kawasan apartemen dan perkantoran,” katanya dalam acara Media Talkshow bertajuk “Potensi Hunian Vertikal Mendorong Pertumbuhan Kawasan Penyangga Jakarta” yang dihelat Forum Wartawan perumahan Rakyat (Forwapera), Rabu (18/11).

Koswara menuturkan, beberapa keuntungan membangun hunian vertikal. Pertama, kapasitas penghuni lebih banyak ketimbang hunian tapak. Kedua, ruang terbuka lebih luas.

“Untuk hunian vertikal ruang terbuka hijau (RTH) yang harus disediakan minimal 30%. Untuk hunian vertikal campuran—yang digabung dengan unit komersial dan jasa—RTH minimal 20%, sementara RTH hunian tapak hanya 15%,” papar Koswara.

Dia menambahkan, komposisi RTH kota Bekasi saat ini disumbang pengembang sebesar 7% – 9%. Porsi terbesar masih dimiliki Pemda Bekasi dan PSU (prasarana sarana dan utilitas).

Keuntungan Sebagai Kota Transit

Sementara itu, Iwan Nur Iswan, Corporate Secretary PT Langgeng Makmur Perkasa—pengembang apartemen Wismaya Residence Bekasi—mengatakan, Bekasi diapit Ibukota Jakarta dan Kawasan Industri Cikarang, sehingga potensinya sangat besar.

“Sebagaimana terjadi di negara-negara lain, kota transit—seperti Bekasi—akan hidup. Ini yang membuat developer masuk,” ujarnya.

Iwan memaparkan, lahan yang makin terbatas dan gaya hidup yang berubah menyebabkan apartemen di tengah kota menjadi pilihan. Dulu banyak orang memilih tinggal di pinggir kota dan akhirnya harus mengorbankan waktu berjam-jam menuju tempat kerja. Saat ini terjadi arus baik, dimana mereka membeli rumah kedua—berupa apartemen—di tengah kota.

“Selain itu harga rumah tapak di pinggir kota lebih mahal ketimbang apartemen di tengah kota. Generasi muda saat ini pun lebih praktis dan pragmatis, sehingga bisa menyesuaikan diri tinggal di hunian vertikal,” paparnya.

Di tengah kondisi yang lesu seperti saat ini, kata Iwan, ada tiga hal yang dapat menghidupkan pasar apartemen dan properti: uang muka diringankan, bunga dikecilkan, dan tenor dipanjangkan.

“Itu yang dapat membuat developer apartemen seperti kami bertahan,” tukasnya.

sumber : http://www.rumah.com/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: